Sabtu, 03 Januari 2009
Tahun Pembangunan Fondasi dan Menagih Janji
*)Olahraga Jawa Timur di Tahun 2009
Ram Surahman
Ram_radarsby@yahoo.com
Tak hanya peletakan fondasi, 2009 ini juga bisa berarti pekerjaan ektra bagi KONI Jatim. Pasalnya, banyak cabor yang akan menagih janji terkait dengan penyediaan fasilitas. Terutama cabor yang telah berjasa besar menjadi lumbung emas Jatim di PON Kaltim lalu. Seperti Selam, Loncat Indah dan Bola Voli.
Olahraga Jawa Timur memasuki tahun 2009 dengan penuh percaya diri. Ini tak lepas dari catatan manis pada 2008 lalu, dimana Jawa Timur dengan gemilang mampu keluar sebagai juara umum PON XVII yang digelar di Kalimantan Timur. PON yang telah disepakati sebagai puncak dari jalur pembinaan yang dilakukan selama ini, maka lewat multieven tersebut, Jatim mampu menunjukkan sebagai barometer olahraga nasional dalam kurun empat tahun terakhir.
Sukses tersebut, di satu sisi jelas menjadi sebuah kebanggaan. Setidaknya, Jatim kini ramai dikunjungi daerah lain untuk menimba ilmu. Pemandangan yang selama beberapa tahun terakhir menjadi milik DKI Jakarta. Di sisi lain, kisah sukses di atas justru menjadi penanda dimulainya sebuah kerja keras bagi seluruh insan olahraga Jatim. Pasalnya, sudah pasti perjuangan di PON Riau 2012 mendatang bakal jauh lebih berat dan sulit. Bukankah mempertahankan jauh lebih berat dari merebut juara?
KONI Jatim, selaku payung semua cabang olahraga (cabor) di Provinsi ini, sudah menyiapkan sederet perangkat untuk kembali meneruskan dominasi. Salah satunya dengan menggeber Program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) jangka panjang. Program ini, direncanakan sudah berjalan mulai Januari ini. Langkah ini dimaksud sebagai peletakan fondasi prestasi. Persis seperti yang dicanangkan saat persiapan PON Kaltim lalu. Saat itu, beberapa tahun sebelumnya, Jatim sudah meluncurkan program Puslatda berlabel 'Jatim 100'. Hasilnya pun bisa dipetik pada saat pelaksanaan PON Kaltim.
Hanya saja, untuk Puslatda kali ini, KONI Jatim sedikit banyak coba lakukan modifikasi. Ini tak lepas dari fakta bahwa program seperti ini sudah bukan rahasia lagi. Banyak daerah yang lakukan hal sama seperti Jatim. Selain itu, penyesuaian juga dilakukan untuk menyeleraskan dengan regulasi baru yang akan diterapkan di PON Riau mendatang. Salah satunya menyangkut batasan umur atlet yang tampil. "Pastilah beda. Kalau sama, berarti kan nggak ada kemajuan. Kita sudah siapkan beberapa format untuk Puslatda jangka panjang. Salah satunya dengan mendatangkan konsultan asing," terang Irmantara Subagio, Kabid Binpres KONI Jatim.
Tak hanya peletakan fondasi, 2009 ini juga bisa berarti pekerjaan ektra bagi KONI Jatim. Pasalnya, banyak cabor yang akan menagih janji terkait dengan penyediaan fasilitas. Terutama cabor yang telah berjasa besar menjadi lumbung emas Jatim di PON Kaltim lalu. Seperti Selam, Loncat Indah dan Bola Voli. Ketiga cabor ini, terang-terangan sudah menyiapkan rencana pembangunan fasilitas di tahun 2009 ini. Selam, lewat ketuanya, Erlangga Satriagung, sudah memasukkan program pembangunan kolam di tahun ini. Diharapkan tiga tahun ke depan, impian ini bisa terwujud. Begitu juga dengan loncat indah yang selama ini, masih nebeng latihan di Kolam milik Graha Residence. Bola Voli? Setali tiga uang. Sampai saat ini, PBVSI Jatim belum miliki gedung indoor yang bisa dipakai untuk kejuaraan berlevel nasional.
Tuntutan ini, sudah pasti bakal memberi tekanan hebat pada anggaran keuangan KONI Jatim. Maklum, selain harus membiayai Puslatda, anggara juga tersedot untuk memenuhi tuntutan di atas. Padahal, situasi 2009 nanti, jelas berbeda. Imam Utomo, ketua umum KONI Jatim saat ini, sudah tidak lagi menjabat Gubernur Jatim. Ini, tentu akan berdampak pada keleluasaan dan besaran anggaran yang akan diterima. Selain itu, Gubernur Jatim yang baru nanti, tak boleh rangkap jabatan dengan menjadi ketua umum KONI. Pasti, ini akan menimbulkan kerepotan tersendiri. ***
sisa postingan sampai selesai
Minggu, 28 Desember 2008
Persebaya Pilih Arcan Iurie
Persebaya temukan pelatih yang sepadan sepeninggal Freddy Muli. Tim berjuluk Green Force ini akhirnya memilih Arcan Iurie sebagai pelatih. Pria asal Moldova ini bakal mendampingi arek-arek selama putaran dua mendatang. Kabar gembira ini disampaikan manajer Indah Kurnia yang bertemu langsung dengan Arcan di Jakarta, Minggu (28/12) siang kemarin.
Dalam pertemuan yang digelar di Coffee Bean Pondok Indah Mal tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk mengikat kerja sama. "Per lisan kita sudah sepakat. Dia sudah setuju dengan tantangan yang kita berikan. Kita juga sepakat memenuhi hak-hak yang diminta," terang Indah Kurnia, kemarin.
Secara resmi, ikatan kerja sama tersebut akan dituangkan dalam kontrak tertulis pada Rabu (31/12) mendatang di Surabaya. "Ya, Rabu nanti dia akan ke Surabaya untuk tanda tangan kontrak. Selanjutnya, dia akan langsung melatih tim," tambahnya.
Disinggung nilai kontrak, Indah Kurnia tak menjelaskan secara detil. Yang pasti, ikatan kontrak yang dilakukan didasari saling menguntungkan. "Nggak etis saya sebutkan. Yang pasti, dia cukup paham dengan kondisi keuangan kita. Lebih penting lagi, Arcan justru tertarik dengan tantangan yang kita berikan," kilahnya.
Persebaya cukup beruntung bisa mendapatkan Arcan Iurie. Dari sisi pengalaman dan kemampuan, pelatih yang saat ini tinggal di Bandung, dikenal pernah menangani beberapa tim besar. Seperti Persija Jakarta dan Persib Bandung. Pada putaran pertama lalu, Arcan Iurie menjadi arsitek Persik Kediri. Di paro musim, Arcan pilih keluar setelah kubu Persik lakukan kebijakan rasionalisasi.
Terpilihnya Arcan ini sekaligus mengakhiri bursa pelatih Persebaya yang sempat marak. Sebelum ini, nama Hartono, Yudi Suryata dan Pikal Wolfgang (pelatih akademi real madrid Indonesia) sempat disebut. "Insya Allah pilihan ini cocok. Kami mohon dukungan dan doa restu masyarakat Surabaya agar Persebaya tetap berjaya di putaran dua nanti," tambah Indah Kurnia.
Mulusnya proses perekrutan Arcan Iurie ini tak lepas dari peran Saleh Hanifah. Asisten manajer Persebaya ini kabarnya sudah menjalin kontak intensif dengan Arcan Iurie sejak sepekan lalu. Hanya saja, saat itu bos Olimpic Sports ini belum melangkah terlalu jauh karena masih menunggu sinyal dari pengurus sekaligus kesiapan Kasiyanto dan Murysid Efendi. Nah, setelah semuanya oke maka kesepakatan pun dilakukan dengan menggelar pertemuan langsung. Kebetulan, sejak tiga hari terakhir Indah Kurnia berada di Jakarta. "Ya, ada teman yang jadi penghubung. Yang pasti, ini kerja bersama. Bukan hanya saya," tukasnya, merendah. (ram)
Dalam pertemuan yang digelar di Coffee Bean Pondok Indah Mal tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk mengikat kerja sama. "Per lisan kita sudah sepakat. Dia sudah setuju dengan tantangan yang kita berikan. Kita juga sepakat memenuhi hak-hak yang diminta," terang Indah Kurnia, kemarin.
Secara resmi, ikatan kerja sama tersebut akan dituangkan dalam kontrak tertulis pada Rabu (31/12) mendatang di Surabaya. "Ya, Rabu nanti dia akan ke Surabaya untuk tanda tangan kontrak. Selanjutnya, dia akan langsung melatih tim," tambahnya.
Disinggung nilai kontrak, Indah Kurnia tak menjelaskan secara detil. Yang pasti, ikatan kontrak yang dilakukan didasari saling menguntungkan. "Nggak etis saya sebutkan. Yang pasti, dia cukup paham dengan kondisi keuangan kita. Lebih penting lagi, Arcan justru tertarik dengan tantangan yang kita berikan," kilahnya.
Persebaya cukup beruntung bisa mendapatkan Arcan Iurie. Dari sisi pengalaman dan kemampuan, pelatih yang saat ini tinggal di Bandung, dikenal pernah menangani beberapa tim besar. Seperti Persija Jakarta dan Persib Bandung. Pada putaran pertama lalu, Arcan Iurie menjadi arsitek Persik Kediri. Di paro musim, Arcan pilih keluar setelah kubu Persik lakukan kebijakan rasionalisasi.
Terpilihnya Arcan ini sekaligus mengakhiri bursa pelatih Persebaya yang sempat marak. Sebelum ini, nama Hartono, Yudi Suryata dan Pikal Wolfgang (pelatih akademi real madrid Indonesia) sempat disebut. "Insya Allah pilihan ini cocok. Kami mohon dukungan dan doa restu masyarakat Surabaya agar Persebaya tetap berjaya di putaran dua nanti," tambah Indah Kurnia.
Mulusnya proses perekrutan Arcan Iurie ini tak lepas dari peran Saleh Hanifah. Asisten manajer Persebaya ini kabarnya sudah menjalin kontak intensif dengan Arcan Iurie sejak sepekan lalu. Hanya saja, saat itu bos Olimpic Sports ini belum melangkah terlalu jauh karena masih menunggu sinyal dari pengurus sekaligus kesiapan Kasiyanto dan Murysid Efendi. Nah, setelah semuanya oke maka kesepakatan pun dilakukan dengan menggelar pertemuan langsung. Kebetulan, sejak tiga hari terakhir Indah Kurnia berada di Jakarta. "Ya, ada teman yang jadi penghubung. Yang pasti, ini kerja bersama. Bukan hanya saya," tukasnya, merendah. (ram)
Tertarik Tantangan dan Nama Besar, Setuju Digaji Bulanan
*)Arcan Iurie, Pelatih Anyar Persebaya
Ram Surahman,
rambenjeng@gmail.com
Pandangan bahwa Persebaya bakal limbung setelah gonjang-ganjing, sepertinya patut direvisi. Asa tinggi justru menyeruak seiring dengan keberhasilan Persebaya menggaet Arcan Iurie sebagai pelatih.
=================
Kabar keberhasilan menggaet pelatih yang putaran pertama lalu menangani Persik ini, jelas menjadi kemajuan besar bagi Persebaya. Maklum, usai melepas pelatih Freddy Muli plus enam pemain, kondisi internal Persebaya jadi sorotan. Terutama menyangkut kaburnya posisi, siapa pemegang komando saat itu. Kondisi makin hiruk pikuk setelah sekelompok suporter meningkahi dengan aksi unjuk rasa. Klop sudah. Persebaya seperti sudah berada di tubir jurang kejatuhan.
Perkembangan ternyata terjadi begitu cepat. Seperti karakter Persebaya selama ini, makin kepepet makin moncer ternyata terbukti. Dalam posisi seperti itu, justru kabar keberhasilan menggaet Arcan Iurie malah berhembus. "Terus terang, perkembangan yang terjadi begitu cepat. Saya sendiri nggak nyangka bisa dapatkan Arcan secepat ini," tukas Saleh Hanifah, asisten manajer Persebaya.
Saleh Hanifah memang menjadi figur penting dibalik kedatangan Arcan ke Persebaya. Menurut Saleh, kontak dengan Arcan sudah dijalin sejak sepekan lalu. Lewat seorang teman, Arcan menyampaikan pesan ingin menjadi pelatih Persebaya sepeninggal Freddy Muli. Saat itu, respon yang diberikan Saleh masih datar saja. Selain kondisi tubuhnya yang agak drop, pengurus juga belum memberi sinyal untuk menjajaki pelatih baru. "Sesuai kesepakatan, kita kan memang masih menunggu kesediaan Mursyid dan Kasiyanto dulu. Makanya, kita belum terpikir untuk ambil pelatih baru. Lagipula, kondisi keuangan kita masih belum memungkinkan," tukasnya.
Pertemuan antar pengurus yang digelar, Sabtu (27/12) kemarin, mengubah segalanya. Saat itu, ketua umum Saleh Ismail Mukadar memberi lampu hijau untuk memakai pelatih baru. Keputusan ini diambil seiring dengan tidak bersedianya Mursyid maupun Kasiyanto untuk menjadi pelatih kepala. Dan, di forum tersebut, nama Arcan Iurie muncul bersama dengan sederet nama lainnya. "Waktu itu, saya diminta untuk menindaklanjuti pendekatan dengan Arcan," tukasnya.
Tak butuh waktu lama bagi Saleh untuk menjalin kesepahaman dengan Arcan. Lewat pembicaraan telepon yang intensif, Arcan sepakat dengan apa yang ditawarkan. Menariknya, terang Saleh, urusan duit ternyata menjadi tema terakhir dalam pembicaraan tersebut. Yang pertama ditanyakan Arcan adalah alasan kenapa Freddy keluar dari Persebaya. Begitu juga dengan enam pemain yang dilepas. Berapa orang yang menjadi tim inti dari jumlah tersebut. Baru, setelah itu bicara uang. "Ini salah satu alasan yang membuat pembicaraan bisa berlangsung mulus. Arcan cukup paham dengan kondisi keuangan kita. Tantangan dan nama besar Persebaya menjadi salah satu daya tarik walau nilai yang kita tawarkan cukup kecil untuk ukuran pelatih sekaliber dia," jelas Saleh.
Informasi yang didapat Radar Surabaya, Arcan nanti akan dibayar tak lebih besar dari yang ditawarkan Persebaya pada Freddy Muli. Yakni gaji bulanan sekitar Rp 25 - Rp 30 juta. Gaji ini akan diberikan sampai berakhirnya kompetisi nanti. Jadi, tidak lagi sistem kontrak. "Kalau nilainya saya nggak mau ngomong. Tapi, model pembayarannya memang seperti itu. Dia sangat mengerti dengan kondisi yang ada. Itu yang membuat kami salut," tambahnya.
Menyangkut target, Arcan belum bisa bicara banyak. Yang pasti, sebelum ini, ketua umum Persebaya Saleh Ismail Mukadar memastikan Persebaya tetap membidik target tinggi yakni menjadi juara sekaligus lolos ke superliga. Insya Allah. ****
Ram Surahman,
rambenjeng@gmail.com
Pandangan bahwa Persebaya bakal limbung setelah gonjang-ganjing, sepertinya patut direvisi. Asa tinggi justru menyeruak seiring dengan keberhasilan Persebaya menggaet Arcan Iurie sebagai pelatih.
=================
Kabar keberhasilan menggaet pelatih yang putaran pertama lalu menangani Persik ini, jelas menjadi kemajuan besar bagi Persebaya. Maklum, usai melepas pelatih Freddy Muli plus enam pemain, kondisi internal Persebaya jadi sorotan. Terutama menyangkut kaburnya posisi, siapa pemegang komando saat itu. Kondisi makin hiruk pikuk setelah sekelompok suporter meningkahi dengan aksi unjuk rasa. Klop sudah. Persebaya seperti sudah berada di tubir jurang kejatuhan.
Perkembangan ternyata terjadi begitu cepat. Seperti karakter Persebaya selama ini, makin kepepet makin moncer ternyata terbukti. Dalam posisi seperti itu, justru kabar keberhasilan menggaet Arcan Iurie malah berhembus. "Terus terang, perkembangan yang terjadi begitu cepat. Saya sendiri nggak nyangka bisa dapatkan Arcan secepat ini," tukas Saleh Hanifah, asisten manajer Persebaya.
Saleh Hanifah memang menjadi figur penting dibalik kedatangan Arcan ke Persebaya. Menurut Saleh, kontak dengan Arcan sudah dijalin sejak sepekan lalu. Lewat seorang teman, Arcan menyampaikan pesan ingin menjadi pelatih Persebaya sepeninggal Freddy Muli. Saat itu, respon yang diberikan Saleh masih datar saja. Selain kondisi tubuhnya yang agak drop, pengurus juga belum memberi sinyal untuk menjajaki pelatih baru. "Sesuai kesepakatan, kita kan memang masih menunggu kesediaan Mursyid dan Kasiyanto dulu. Makanya, kita belum terpikir untuk ambil pelatih baru. Lagipula, kondisi keuangan kita masih belum memungkinkan," tukasnya.
Pertemuan antar pengurus yang digelar, Sabtu (27/12) kemarin, mengubah segalanya. Saat itu, ketua umum Saleh Ismail Mukadar memberi lampu hijau untuk memakai pelatih baru. Keputusan ini diambil seiring dengan tidak bersedianya Mursyid maupun Kasiyanto untuk menjadi pelatih kepala. Dan, di forum tersebut, nama Arcan Iurie muncul bersama dengan sederet nama lainnya. "Waktu itu, saya diminta untuk menindaklanjuti pendekatan dengan Arcan," tukasnya.
Tak butuh waktu lama bagi Saleh untuk menjalin kesepahaman dengan Arcan. Lewat pembicaraan telepon yang intensif, Arcan sepakat dengan apa yang ditawarkan. Menariknya, terang Saleh, urusan duit ternyata menjadi tema terakhir dalam pembicaraan tersebut. Yang pertama ditanyakan Arcan adalah alasan kenapa Freddy keluar dari Persebaya. Begitu juga dengan enam pemain yang dilepas. Berapa orang yang menjadi tim inti dari jumlah tersebut. Baru, setelah itu bicara uang. "Ini salah satu alasan yang membuat pembicaraan bisa berlangsung mulus. Arcan cukup paham dengan kondisi keuangan kita. Tantangan dan nama besar Persebaya menjadi salah satu daya tarik walau nilai yang kita tawarkan cukup kecil untuk ukuran pelatih sekaliber dia," jelas Saleh.
Informasi yang didapat Radar Surabaya, Arcan nanti akan dibayar tak lebih besar dari yang ditawarkan Persebaya pada Freddy Muli. Yakni gaji bulanan sekitar Rp 25 - Rp 30 juta. Gaji ini akan diberikan sampai berakhirnya kompetisi nanti. Jadi, tidak lagi sistem kontrak. "Kalau nilainya saya nggak mau ngomong. Tapi, model pembayarannya memang seperti itu. Dia sangat mengerti dengan kondisi yang ada. Itu yang membuat kami salut," tambahnya.
Menyangkut target, Arcan belum bisa bicara banyak. Yang pasti, sebelum ini, ketua umum Persebaya Saleh Ismail Mukadar memastikan Persebaya tetap membidik target tinggi yakni menjadi juara sekaligus lolos ke superliga. Insya Allah. ****
Selasa, 23 Desember 2008
Diri Sendiri, Musuh Terbesar Persebaya
Harus dipahami, menyembuhkan luka hati, jelas tak semudah mengobati luka fisik. Butuh perhatian dan kerja ekstra untuk merawat dan memastikan semua baik-baik saja. Masa penyembuhan pun tak tertentu. Bisa super cepat atau malah tak tuntas sampai akhir musim nanti.
Ram Surahman,
rambenjeng@gmail.com
============
Tambah sukses atau terpurukkah Persebaya setelah gonjang-ganjing saat ini? Tak bisa disangkal, pertanyaan tersebut yang kini banyak bergelanyut di benak para pecinta Persebaya. Dari kaca mata pengurus, optimisme terlihat menyembul atas kebijakan yang diambil. Pencoretan enam pemain, dinilai miliki dua keuntungan ganda. Mampu sedikit mengurangi beban keuangan klub, sekaligus tanpa mengusik kekuatan Green Force di lapangan. Bukankah mereka yang dilepas sebagian besar pemain pelapis? Begitu dalih mereka.
Diseberang, suara pesimis muncul. Ada keraguan, Persebaya bakal tetap stabil. Apalagi, sang arsitek tim, Freddy Muli ikutan pergi. Terlepas dari pro kontra yang mengiringi, coach asal Palopo Sulsel ini berjasa besar menempatkan Persebaya sebagai juara paro musim wilayah timur. Selain itu, perlu juga dicatat, memang hanya Bejo Sugiantoro dan Putu Gede -dua pemain pilar- yang masuk dalam gerbong pelepasan enam pemain. Hanya saja, pengaruh keduanya cukup besar bagi keseimbangan tim di lapangan. Ingat, Bejo adalah kapten tim. So, kestabilan yang ditunjukkan di putaran pertama, diragukan berlanjut. Begitu mereka yang skeptis lihat langkah yang diambil pengurus.
Tantangan Persebaya di putaran dua mendatang memang cukup berat. Selain para kompetitor di wilayah timur, sebelum itu, Green Force dituntut mampu mengalahkan diri sendiri. Bagaimana menghimpun kembali kekuatan yang berserak setelah goncangan kemarin. Saya kira, inilah musuh terbesar yang dihadapi Persebaya ke depan. Bohong besar bila guncangan kali ini, tak akan memberi efek apapun. Sekecil apapun, luka pasti ada. Nah, ini yang harus disembuhkan lebih dulu.
Harus dipahami, menyembuhkan luka hati, jelas tak semudah mengobati luka fisik. Butuh perhatian dan kerja ekstra untuk merawat dan memastikan semua baik-baik saja. Masa penyembuhan pun tak tertentu. Bisa super cepat atau malah tak tuntas sampai akhir musim nanti. Tergantung, sejauh mana efektifitas langkah yang diambil manajemen maupun pengurus.
Untuk itu, dibutuhkan rencana aksi yang runut dan gamblang guna mengurai ganjalan psikologis tersebut. Peran pelatih sangat besar dalam menentukan cepat tidaknya masa penyembuhan nanti. Pasalnya, sosok inilah yang berinteraksi langsung dengan pemain setiap saat. Kekuatan untuk memotivator dan meyakinkan akan masih adanya tumpukan asa dan ambisi bakal mempercepat proses penyatuan kembali. Karenanya, pelatih baru Persebaya nanti benar-benar harus seorang superman. Tidak saja miliki kemampuan teknis yang mumpuni tapi juga seorang motivator sekelas Andre Wongso atau Mario Teguh. Dan, dibelakangnya, manajemen dan pengurus memberi dukungan penuh. ***
Ram Surahman,
rambenjeng@gmail.com
============
Tambah sukses atau terpurukkah Persebaya setelah gonjang-ganjing saat ini? Tak bisa disangkal, pertanyaan tersebut yang kini banyak bergelanyut di benak para pecinta Persebaya. Dari kaca mata pengurus, optimisme terlihat menyembul atas kebijakan yang diambil. Pencoretan enam pemain, dinilai miliki dua keuntungan ganda. Mampu sedikit mengurangi beban keuangan klub, sekaligus tanpa mengusik kekuatan Green Force di lapangan. Bukankah mereka yang dilepas sebagian besar pemain pelapis? Begitu dalih mereka.
Diseberang, suara pesimis muncul. Ada keraguan, Persebaya bakal tetap stabil. Apalagi, sang arsitek tim, Freddy Muli ikutan pergi. Terlepas dari pro kontra yang mengiringi, coach asal Palopo Sulsel ini berjasa besar menempatkan Persebaya sebagai juara paro musim wilayah timur. Selain itu, perlu juga dicatat, memang hanya Bejo Sugiantoro dan Putu Gede -dua pemain pilar- yang masuk dalam gerbong pelepasan enam pemain. Hanya saja, pengaruh keduanya cukup besar bagi keseimbangan tim di lapangan. Ingat, Bejo adalah kapten tim. So, kestabilan yang ditunjukkan di putaran pertama, diragukan berlanjut. Begitu mereka yang skeptis lihat langkah yang diambil pengurus.
Tantangan Persebaya di putaran dua mendatang memang cukup berat. Selain para kompetitor di wilayah timur, sebelum itu, Green Force dituntut mampu mengalahkan diri sendiri. Bagaimana menghimpun kembali kekuatan yang berserak setelah goncangan kemarin. Saya kira, inilah musuh terbesar yang dihadapi Persebaya ke depan. Bohong besar bila guncangan kali ini, tak akan memberi efek apapun. Sekecil apapun, luka pasti ada. Nah, ini yang harus disembuhkan lebih dulu.
Harus dipahami, menyembuhkan luka hati, jelas tak semudah mengobati luka fisik. Butuh perhatian dan kerja ekstra untuk merawat dan memastikan semua baik-baik saja. Masa penyembuhan pun tak tertentu. Bisa super cepat atau malah tak tuntas sampai akhir musim nanti. Tergantung, sejauh mana efektifitas langkah yang diambil manajemen maupun pengurus.
Untuk itu, dibutuhkan rencana aksi yang runut dan gamblang guna mengurai ganjalan psikologis tersebut. Peran pelatih sangat besar dalam menentukan cepat tidaknya masa penyembuhan nanti. Pasalnya, sosok inilah yang berinteraksi langsung dengan pemain setiap saat. Kekuatan untuk memotivator dan meyakinkan akan masih adanya tumpukan asa dan ambisi bakal mempercepat proses penyatuan kembali. Karenanya, pelatih baru Persebaya nanti benar-benar harus seorang superman. Tidak saja miliki kemampuan teknis yang mumpuni tapi juga seorang motivator sekelas Andre Wongso atau Mario Teguh. Dan, dibelakangnya, manajemen dan pengurus memberi dukungan penuh. ***
Melihat Indonesia Mini di Suryanaga
Ram Surahman
Tionghoa. Kata itu barangkali yang cukup identik dengan Perkumpulan Olahraga (POR) Suryanaga. Pengaitan ini memang tak salah. Jejak historis menunjukkan fakta seperti itu. POR Tiong Hwa yang dibentuk pada 1 Januari 1908 lampau adalah cikal bakal perkumpulan ini. Nah, memasuki usia seabad, masihkah relevan pengaitan ini?
Jarang ada sebuah perkumpulan olahraga (POR) bisa menginjak usia sampai satu abad lamanya. Di daratan Eropa, kisah manis seperti ini barangkali bisa didengar dari klub-klub sepakbola. Seperti Real Madrid di Spanyol atau Inter Milan di Italia. Maklum, butuh tenaga spartan serta keuletan luar biasa agar bisa bertahan sepanjang waktu tersebut. Maklum, butuh kepiawaian lebih untuk mengawal organisasi melewati setiap riak yang terjadi. Ini yang sulit.
Di Indonesia? Suryanaga termasuk sedikit perkumpulan yang mampu menorehkan catatan seperti itu. Selain itu, ada juga POR UMS yang sudah menapak usia satu abad lebih. Perkumpulan dengan nama Union Makes Strenght (UMS) didirikan pada 15 Desember 1905. Lebih tua dari Suryanaga. Kendati begitu, perkembangan perkumpulan ini tak semaju POR Suryanaga.
Sejatinya, melihat jejak historis perkumpulan ini, sulit dipercaya Suryanaga mampu eksis sampai satu abad lamanya. Bagaimana tidak, POR Tiong Hwa yang menjadi cikal bakal organisasi ini lahir dari semangat primordialisme.
Perkumpulan ini menjadi wadah kaum Tionghoa penikmat olahraga senam pada masa itu. Padahal, jamak diketahui, organisasi yang berbasis kesukuan dan ikatan-ikatan eksklusifisme lainnya, seringkali tak berumur panjang. Kalaupun tetap eksis, biasanya mulai redup ditelan perkembangan jaman.
Apa resepnya? Keluwesan, disebut Yacob Rusdianto, ketua harian POR Suryanaga menjadi kunci eksisnya perkumpulan ini. Sifat yang diambil dari filosofi seekor naga tersebut, mampu menyelamatkan organisasi ini dari setiap cobaan yang datang. Dari yang ringan sampai yang coba mengancam eksistensinya.
Lihat saja catatan sejarah yang mengiringi perjalanan Suryanaga. Bermula dari POR Tiong Hwa pada 1908, selubung eksklusifitas coba disibak dengan mengganti nama menjadi Naga Kuning pada 1959. Harapan pergantian agar terlihat lebih ’meng-Indonesia’ ini tak berumur lama. Tujuh tahun kemudian, ketatnya tekanan penguasa saat itu yang mengatasnamakan ’pembauran’, lahir Keppres no 623/Pr/66, tertanggal 9 Mei Tahun 1966.
Keputusan ini sekaligus menandai nama Suryanaga hingga kini. Hebatnya, tekanan ini tak dihadapi secara emosional dan frontal. Secara cerdas, tekanan ini dijawab dengan prestasi di lapangan. Salah satunya, seperti yang ditunjukkan Njoo Kim Bie, ikon bulutangkis nasional dari Suryanaga.
Kibasan raket pemilik nama Koesbianto Setiadharma Atmaja ini mampu membuat kalangan istana terpesona. Deretan penghargaan diterima. Salah satunya tanda kehormatan dari LB Moerdani (saat itu, Menhankam).
Ini sekaligus menjadi pengakuan akan kehebatan dan eksistensi perkumpulan ini. ’’Dari awal, komitmen akan ke-Indonesia-an bagi kami sudah final. Karenanya, setiap dinamika yang terjadi ketika itu, kami secara lentur mampu mengimbangi,’’ urai Yacob.
Sikap luwes bisa diterapkan kapanpun, karena, sejak awal, tambah Yacob, perkumpulan ini memang tidak fanatis dan tertutup amat. Bahwa cikal bakal organisasi ini didirikan warga Tionghoa adalah fakta yang tak terbantah.
Hanya saja, jika dibedah lebih lanjut, kelahiran POR Tiong Hwa saat itu, lebih pada karena produk situasi dibanding pertimbangan etnis. Penjajah Belanda saat itu, memang sengaja mendorong munculnya banyak organisasi dengan basis etnis maupun suku tertentu. Pasalnya, ini akan memermudah Belanda memecah belah (devide et impera).
Perkembangan di era modern, makin memertegas argumentasi ini. POR Suryanaga kini laksana Indonesia Mini. Sebuah perkumpulan dengan multikultural. Siapapun dengan latar belakang apapun bisa dijumpai di sana.
Di bukutangkis misalnya, dari 300 atlet yang tergabung saat ini, sekitar 90 persen malah berasal dari latar belakang keluarga yang beragam. Sepakbola lebih dahsyat lagi. Di Perkumpulan Sepakbola (PS) Suryanaga yang kini kandidat kuat juara kompetisi kelas utama PSSI Surabaya, justru cukup sulit menjumpai pemain keturunan Tionghoa yang asyik menari-nari di Stadion Gelora 10 Nopember.
Padahal, dulu semasa masih bernama Naga Kuning, banyak pemain hebat lahir. ’’Bagi kami, tak penting warna kulit seorang pemain. Yang terpenting, dia punya skill dan kemampuan bagus di lapangan. Siapapun dia, bagi kami dia adalah aset yang harus dipertahankan,’’ terang Michel, Pengelola PS Suryanaga saat ini.
’’Malah, tahun 70-an lalu, Sepakbola Suryanaga dipimpin keturunan Arab. Namanya Thalib Bob Said,’’ tambah Yacob, seakan mempertegas pendapat juniornya ini.
Ke-bhineka-an ini mampu dirangkai mulus karena bersendi semangat fair play dan sportifitas. Dan, prestasi, telah disepakati menjadi tolok ukur yang tak bisa ditawar. Sepanjang mampu dan berprestasi, seseorang bisa mencapai posisi puncak dan dapatkan harumnya puja-puji. ’’Saya dulu mendapat perlakuan yang sama. Prestasi jualah yang pada akhirnya menjadi pembeda,’’ kisah Sri Wijanti (56), kini salah satu tim pelatih PB Suryanaga.
Sri Wijanti, termasuk generasi pertama non Tionghoa yang ikut membawa harum Suryanaga pada tahun 70-an. Ibu dua anak kelahiran Tulungagung ini memutuskan hijrah ke Suryanaga untuk mengoptimalkan kemampuan. ’’Waktu itu, saya pilih Suryanaga karena terkenal melahirkan para pebulutangkis yang hebat. Sama sekali ndak ada pikiran bahwa saya akan diperlakukan berbeda. Dan, terbukti sampai saat ini. Walau saya sudah lama pensiun, toh tenaga dan pikiran saya masih dipakai,’’ jelas wanita yang kini masuk dalam pemandu bakat di kepengurusan PB Suryanaga Jatim ini.
Kini, seabad telah dilewati. Dengan harmoni yang ditunjukkan selama ini, POR Suryanaga sepertinya bakal tetap eksis dan terus mengukir prestasi emas sepanjang jaman. Viva POR Suryanaga.(*)
rambenjeng@gmail.com
Tionghoa. Kata itu barangkali yang cukup identik dengan Perkumpulan Olahraga (POR) Suryanaga. Pengaitan ini memang tak salah. Jejak historis menunjukkan fakta seperti itu. POR Tiong Hwa yang dibentuk pada 1 Januari 1908 lampau adalah cikal bakal perkumpulan ini. Nah, memasuki usia seabad, masihkah relevan pengaitan ini?
Jarang ada sebuah perkumpulan olahraga (POR) bisa menginjak usia sampai satu abad lamanya. Di daratan Eropa, kisah manis seperti ini barangkali bisa didengar dari klub-klub sepakbola. Seperti Real Madrid di Spanyol atau Inter Milan di Italia. Maklum, butuh tenaga spartan serta keuletan luar biasa agar bisa bertahan sepanjang waktu tersebut. Maklum, butuh kepiawaian lebih untuk mengawal organisasi melewati setiap riak yang terjadi. Ini yang sulit.
Di Indonesia? Suryanaga termasuk sedikit perkumpulan yang mampu menorehkan catatan seperti itu. Selain itu, ada juga POR UMS yang sudah menapak usia satu abad lebih. Perkumpulan dengan nama Union Makes Strenght (UMS) didirikan pada 15 Desember 1905. Lebih tua dari Suryanaga. Kendati begitu, perkembangan perkumpulan ini tak semaju POR Suryanaga.
Sejatinya, melihat jejak historis perkumpulan ini, sulit dipercaya Suryanaga mampu eksis sampai satu abad lamanya. Bagaimana tidak, POR Tiong Hwa yang menjadi cikal bakal organisasi ini lahir dari semangat primordialisme.
Perkumpulan ini menjadi wadah kaum Tionghoa penikmat olahraga senam pada masa itu. Padahal, jamak diketahui, organisasi yang berbasis kesukuan dan ikatan-ikatan eksklusifisme lainnya, seringkali tak berumur panjang. Kalaupun tetap eksis, biasanya mulai redup ditelan perkembangan jaman.
Apa resepnya? Keluwesan, disebut Yacob Rusdianto, ketua harian POR Suryanaga menjadi kunci eksisnya perkumpulan ini. Sifat yang diambil dari filosofi seekor naga tersebut, mampu menyelamatkan organisasi ini dari setiap cobaan yang datang. Dari yang ringan sampai yang coba mengancam eksistensinya.
Lihat saja catatan sejarah yang mengiringi perjalanan Suryanaga. Bermula dari POR Tiong Hwa pada 1908, selubung eksklusifitas coba disibak dengan mengganti nama menjadi Naga Kuning pada 1959. Harapan pergantian agar terlihat lebih ’meng-Indonesia’ ini tak berumur lama. Tujuh tahun kemudian, ketatnya tekanan penguasa saat itu yang mengatasnamakan ’pembauran’, lahir Keppres no 623/Pr/66, tertanggal 9 Mei Tahun 1966.
Keputusan ini sekaligus menandai nama Suryanaga hingga kini. Hebatnya, tekanan ini tak dihadapi secara emosional dan frontal. Secara cerdas, tekanan ini dijawab dengan prestasi di lapangan. Salah satunya, seperti yang ditunjukkan Njoo Kim Bie, ikon bulutangkis nasional dari Suryanaga.
Kibasan raket pemilik nama Koesbianto Setiadharma Atmaja ini mampu membuat kalangan istana terpesona. Deretan penghargaan diterima. Salah satunya tanda kehormatan dari LB Moerdani (saat itu, Menhankam).
Ini sekaligus menjadi pengakuan akan kehebatan dan eksistensi perkumpulan ini. ’’Dari awal, komitmen akan ke-Indonesia-an bagi kami sudah final. Karenanya, setiap dinamika yang terjadi ketika itu, kami secara lentur mampu mengimbangi,’’ urai Yacob.
Sikap luwes bisa diterapkan kapanpun, karena, sejak awal, tambah Yacob, perkumpulan ini memang tidak fanatis dan tertutup amat. Bahwa cikal bakal organisasi ini didirikan warga Tionghoa adalah fakta yang tak terbantah.
Hanya saja, jika dibedah lebih lanjut, kelahiran POR Tiong Hwa saat itu, lebih pada karena produk situasi dibanding pertimbangan etnis. Penjajah Belanda saat itu, memang sengaja mendorong munculnya banyak organisasi dengan basis etnis maupun suku tertentu. Pasalnya, ini akan memermudah Belanda memecah belah (devide et impera).
Perkembangan di era modern, makin memertegas argumentasi ini. POR Suryanaga kini laksana Indonesia Mini. Sebuah perkumpulan dengan multikultural. Siapapun dengan latar belakang apapun bisa dijumpai di sana.
Di bukutangkis misalnya, dari 300 atlet yang tergabung saat ini, sekitar 90 persen malah berasal dari latar belakang keluarga yang beragam. Sepakbola lebih dahsyat lagi. Di Perkumpulan Sepakbola (PS) Suryanaga yang kini kandidat kuat juara kompetisi kelas utama PSSI Surabaya, justru cukup sulit menjumpai pemain keturunan Tionghoa yang asyik menari-nari di Stadion Gelora 10 Nopember.
Padahal, dulu semasa masih bernama Naga Kuning, banyak pemain hebat lahir. ’’Bagi kami, tak penting warna kulit seorang pemain. Yang terpenting, dia punya skill dan kemampuan bagus di lapangan. Siapapun dia, bagi kami dia adalah aset yang harus dipertahankan,’’ terang Michel, Pengelola PS Suryanaga saat ini.
’’Malah, tahun 70-an lalu, Sepakbola Suryanaga dipimpin keturunan Arab. Namanya Thalib Bob Said,’’ tambah Yacob, seakan mempertegas pendapat juniornya ini.
Ke-bhineka-an ini mampu dirangkai mulus karena bersendi semangat fair play dan sportifitas. Dan, prestasi, telah disepakati menjadi tolok ukur yang tak bisa ditawar. Sepanjang mampu dan berprestasi, seseorang bisa mencapai posisi puncak dan dapatkan harumnya puja-puji. ’’Saya dulu mendapat perlakuan yang sama. Prestasi jualah yang pada akhirnya menjadi pembeda,’’ kisah Sri Wijanti (56), kini salah satu tim pelatih PB Suryanaga.
Sri Wijanti, termasuk generasi pertama non Tionghoa yang ikut membawa harum Suryanaga pada tahun 70-an. Ibu dua anak kelahiran Tulungagung ini memutuskan hijrah ke Suryanaga untuk mengoptimalkan kemampuan. ’’Waktu itu, saya pilih Suryanaga karena terkenal melahirkan para pebulutangkis yang hebat. Sama sekali ndak ada pikiran bahwa saya akan diperlakukan berbeda. Dan, terbukti sampai saat ini. Walau saya sudah lama pensiun, toh tenaga dan pikiran saya masih dipakai,’’ jelas wanita yang kini masuk dalam pemandu bakat di kepengurusan PB Suryanaga Jatim ini.
Kini, seabad telah dilewati. Dengan harmoni yang ditunjukkan selama ini, POR Suryanaga sepertinya bakal tetap eksis dan terus mengukir prestasi emas sepanjang jaman. Viva POR Suryanaga.(*)
rambenjeng@gmail.com
Langganan:
Postingan (Atom)