Ram Surahman
Tionghoa. Kata itu barangkali yang cukup identik dengan Perkumpulan Olahraga (POR) Suryanaga. Pengaitan ini memang tak salah. Jejak historis menunjukkan fakta seperti itu. POR Tiong Hwa yang dibentuk pada 1 Januari 1908 lampau adalah cikal bakal perkumpulan ini. Nah, memasuki usia seabad, masihkah relevan pengaitan ini?
Jarang ada sebuah perkumpulan olahraga (POR) bisa menginjak usia sampai satu abad lamanya. Di daratan Eropa, kisah manis seperti ini barangkali bisa didengar dari klub-klub sepakbola. Seperti Real Madrid di Spanyol atau Inter Milan di Italia. Maklum, butuh tenaga spartan serta keuletan luar biasa agar bisa bertahan sepanjang waktu tersebut. Maklum, butuh kepiawaian lebih untuk mengawal organisasi melewati setiap riak yang terjadi. Ini yang sulit.
Di Indonesia? Suryanaga termasuk sedikit perkumpulan yang mampu menorehkan catatan seperti itu. Selain itu, ada juga POR UMS yang sudah menapak usia satu abad lebih. Perkumpulan dengan nama Union Makes Strenght (UMS) didirikan pada 15 Desember 1905. Lebih tua dari Suryanaga. Kendati begitu, perkembangan perkumpulan ini tak semaju POR Suryanaga.
Sejatinya, melihat jejak historis perkumpulan ini, sulit dipercaya Suryanaga mampu eksis sampai satu abad lamanya. Bagaimana tidak, POR Tiong Hwa yang menjadi cikal bakal organisasi ini lahir dari semangat primordialisme.
Perkumpulan ini menjadi wadah kaum Tionghoa penikmat olahraga senam pada masa itu. Padahal, jamak diketahui, organisasi yang berbasis kesukuan dan ikatan-ikatan eksklusifisme lainnya, seringkali tak berumur panjang. Kalaupun tetap eksis, biasanya mulai redup ditelan perkembangan jaman.
Apa resepnya? Keluwesan, disebut Yacob Rusdianto, ketua harian POR Suryanaga menjadi kunci eksisnya perkumpulan ini. Sifat yang diambil dari filosofi seekor naga tersebut, mampu menyelamatkan organisasi ini dari setiap cobaan yang datang. Dari yang ringan sampai yang coba mengancam eksistensinya.
Lihat saja catatan sejarah yang mengiringi perjalanan Suryanaga. Bermula dari POR Tiong Hwa pada 1908, selubung eksklusifitas coba disibak dengan mengganti nama menjadi Naga Kuning pada 1959. Harapan pergantian agar terlihat lebih ’meng-Indonesia’ ini tak berumur lama. Tujuh tahun kemudian, ketatnya tekanan penguasa saat itu yang mengatasnamakan ’pembauran’, lahir Keppres no 623/Pr/66, tertanggal 9 Mei Tahun 1966.
Keputusan ini sekaligus menandai nama Suryanaga hingga kini. Hebatnya, tekanan ini tak dihadapi secara emosional dan frontal. Secara cerdas, tekanan ini dijawab dengan prestasi di lapangan. Salah satunya, seperti yang ditunjukkan Njoo Kim Bie, ikon bulutangkis nasional dari Suryanaga.
Kibasan raket pemilik nama Koesbianto Setiadharma Atmaja ini mampu membuat kalangan istana terpesona. Deretan penghargaan diterima. Salah satunya tanda kehormatan dari LB Moerdani (saat itu, Menhankam).
Ini sekaligus menjadi pengakuan akan kehebatan dan eksistensi perkumpulan ini. ’’Dari awal, komitmen akan ke-Indonesia-an bagi kami sudah final. Karenanya, setiap dinamika yang terjadi ketika itu, kami secara lentur mampu mengimbangi,’’ urai Yacob.
Sikap luwes bisa diterapkan kapanpun, karena, sejak awal, tambah Yacob, perkumpulan ini memang tidak fanatis dan tertutup amat. Bahwa cikal bakal organisasi ini didirikan warga Tionghoa adalah fakta yang tak terbantah.
Hanya saja, jika dibedah lebih lanjut, kelahiran POR Tiong Hwa saat itu, lebih pada karena produk situasi dibanding pertimbangan etnis. Penjajah Belanda saat itu, memang sengaja mendorong munculnya banyak organisasi dengan basis etnis maupun suku tertentu. Pasalnya, ini akan memermudah Belanda memecah belah (devide et impera).
Perkembangan di era modern, makin memertegas argumentasi ini. POR Suryanaga kini laksana Indonesia Mini. Sebuah perkumpulan dengan multikultural. Siapapun dengan latar belakang apapun bisa dijumpai di sana.
Di bukutangkis misalnya, dari 300 atlet yang tergabung saat ini, sekitar 90 persen malah berasal dari latar belakang keluarga yang beragam. Sepakbola lebih dahsyat lagi. Di Perkumpulan Sepakbola (PS) Suryanaga yang kini kandidat kuat juara kompetisi kelas utama PSSI Surabaya, justru cukup sulit menjumpai pemain keturunan Tionghoa yang asyik menari-nari di Stadion Gelora 10 Nopember.
Padahal, dulu semasa masih bernama Naga Kuning, banyak pemain hebat lahir. ’’Bagi kami, tak penting warna kulit seorang pemain. Yang terpenting, dia punya skill dan kemampuan bagus di lapangan. Siapapun dia, bagi kami dia adalah aset yang harus dipertahankan,’’ terang Michel, Pengelola PS Suryanaga saat ini.
’’Malah, tahun 70-an lalu, Sepakbola Suryanaga dipimpin keturunan Arab. Namanya Thalib Bob Said,’’ tambah Yacob, seakan mempertegas pendapat juniornya ini.
Ke-bhineka-an ini mampu dirangkai mulus karena bersendi semangat fair play dan sportifitas. Dan, prestasi, telah disepakati menjadi tolok ukur yang tak bisa ditawar. Sepanjang mampu dan berprestasi, seseorang bisa mencapai posisi puncak dan dapatkan harumnya puja-puji. ’’Saya dulu mendapat perlakuan yang sama. Prestasi jualah yang pada akhirnya menjadi pembeda,’’ kisah Sri Wijanti (56), kini salah satu tim pelatih PB Suryanaga.
Sri Wijanti, termasuk generasi pertama non Tionghoa yang ikut membawa harum Suryanaga pada tahun 70-an. Ibu dua anak kelahiran Tulungagung ini memutuskan hijrah ke Suryanaga untuk mengoptimalkan kemampuan. ’’Waktu itu, saya pilih Suryanaga karena terkenal melahirkan para pebulutangkis yang hebat. Sama sekali ndak ada pikiran bahwa saya akan diperlakukan berbeda. Dan, terbukti sampai saat ini. Walau saya sudah lama pensiun, toh tenaga dan pikiran saya masih dipakai,’’ jelas wanita yang kini masuk dalam pemandu bakat di kepengurusan PB Suryanaga Jatim ini.
Kini, seabad telah dilewati. Dengan harmoni yang ditunjukkan selama ini, POR Suryanaga sepertinya bakal tetap eksis dan terus mengukir prestasi emas sepanjang jaman. Viva POR Suryanaga.(*)
rambenjeng@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label sudut pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sudut pandang. Tampilkan semua postingan
Selasa, 23 Desember 2008
Rabu, 03 Desember 2008
Surabaya Perlu Belajar dari Kegagalan DKI Jakarta
Porprov, Setelah 20 Cabor Diputuskan
Merebut jauh lebih mudah dari mempertahankan. Kata bijak ini perlu dicamkan benar kontingen Surabaya yang akan berlaga di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2009 mendatang. Kendati masih belum ditentukan kapan pelaksanaan multi even dua tahunan tersebut namun bagi para kontingen, khususnya Surabaya, perjuangan sudah mulai sejak diputuskan jumlah cabor yang dipertandingkan nanti.
Banyak yang menilai, Porprov II nanti, Surabaya akan tetap kembali menggenggam juara umum. Rekam data prestasim cukup mendukung prediksi tersebut. Ingat, 70 persen dari atlet Jatim yang berlaga di PON XVII Kaltim lalu, beralasal dari Surabaya. Logikanya, jika di PON saja mereka mampu menjadi jawara, tentu tak akan sulit bagi atlet Surabaya meneruskan di Poprov mendatang.
Selain itu, lima cabor tambahan yang diputuskan di Hotel Utami, Sabtu (29/11) lalu, sudah jadi rahasia umum menjadi milik Surabaya. Tak kurang, Penjabat Ketua Umum KONI Surabaya, Heroe Poernomohadi mengakui hal tersebut. Ya, Karate, Gulat, Panahan, Panjat Tebing dan Selam adalah olahraga yang masih menjadi milik Surabaya. Jadi, pantaslah bila Surabaya kembali dijagokan kembali.
Di lapangan, KONI Surabaya coba menjawab puja-puji tersebut dengan konsep yang terencana. Program Pemusatan Latihan Cabang (Puslatcab) yang selama ini digeber di 43 cabang olahraga yang di bawah naungan KONI Surabaya coba dioptimalkan. Terutama 20 cabor yang akan dipertandingkan di Porprov nanti. Semua semangat dan ambisi tersebut dirangkum dalam program Surabaya Sukses 50. Surabaya Sukses adalah jargon yang dicanangkan Wali Kota Surabaya Bambang DH saat melepas atlet Surabaya yang bertarung di PON Kaltim lalu. Angka 50 merujuk pada jumlah medali emas yang dibidik di Porprov mendatang. Jumlah ini, merupakan kelipatan dua dari jumlah medali yang dikoleksi Surabaya di Porprov 2007 lalu. Saat itu, kontingen Surabaya keluar sebagai juara umum dengan 27 emas.
Di atas kertas, sepertinya sulit bagi Surabaya untuk tak merebut kembali juara umum. Semua perencanaan sudah disusun secara matang. Hanya saja, apakah ini sudah cukup untuk mengantar Surabaya juara kembali?
Ini yang masih perlu dibuktikan di lapangan kelak. Yang pasti, kontingen Surabaya perlu belajar dari kegagalan DKI Jakarta di PON Kaltim lalu. Dominasi DKI Jakarta di tiap PON pada akhirnya justru membuat antipati dari kontingen lain. Akibatnya, penjegalan terjadi di sana-sini. Gerakan Asal Bukan Jakarta (ABJ) menggelinding bak bola salju. Pada akhirnya, Jatim yang diuntungkan dari penempatan DKI Jakarta sebagai musuh bersama.
Yang perlu diwaspadai, bagaimana Surabaya bisa menghindari dari cap sebagai musuh bersama. Dominasi yang berlebihan, bagaimanapun, sedikit banyak akan memicu rasa antipati. Apalagi, Porprov kali ini digelar di Malang, daerah yang selama ini miliki tingkat persaingan tinggi dengan Surabaya.
Faktor non teknis ini, perlu diperhatikan. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah bagaimana seluruh elemen olahraga di Surabaya bisa miliki kesepahaman untuk menebar simpati. Baik lewat para pengurus, atlet, pelatih maupun wasit. Langkah ini sudah bisa dimulai dari sekarang. Terutama di even yang memungkinkan pertemuan dengan daerah lain. Gumpalan simpati ini, diharapkan bisa dipetik saat pelaksanaan Porprov nanti. ***
Merebut jauh lebih mudah dari mempertahankan. Kata bijak ini perlu dicamkan benar kontingen Surabaya yang akan berlaga di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2009 mendatang. Kendati masih belum ditentukan kapan pelaksanaan multi even dua tahunan tersebut namun bagi para kontingen, khususnya Surabaya, perjuangan sudah mulai sejak diputuskan jumlah cabor yang dipertandingkan nanti.
Banyak yang menilai, Porprov II nanti, Surabaya akan tetap kembali menggenggam juara umum. Rekam data prestasim cukup mendukung prediksi tersebut. Ingat, 70 persen dari atlet Jatim yang berlaga di PON XVII Kaltim lalu, beralasal dari Surabaya. Logikanya, jika di PON saja mereka mampu menjadi jawara, tentu tak akan sulit bagi atlet Surabaya meneruskan di Poprov mendatang.
Selain itu, lima cabor tambahan yang diputuskan di Hotel Utami, Sabtu (29/11) lalu, sudah jadi rahasia umum menjadi milik Surabaya. Tak kurang, Penjabat Ketua Umum KONI Surabaya, Heroe Poernomohadi mengakui hal tersebut. Ya, Karate, Gulat, Panahan, Panjat Tebing dan Selam adalah olahraga yang masih menjadi milik Surabaya. Jadi, pantaslah bila Surabaya kembali dijagokan kembali.
Di lapangan, KONI Surabaya coba menjawab puja-puji tersebut dengan konsep yang terencana. Program Pemusatan Latihan Cabang (Puslatcab) yang selama ini digeber di 43 cabang olahraga yang di bawah naungan KONI Surabaya coba dioptimalkan. Terutama 20 cabor yang akan dipertandingkan di Porprov nanti. Semua semangat dan ambisi tersebut dirangkum dalam program Surabaya Sukses 50. Surabaya Sukses adalah jargon yang dicanangkan Wali Kota Surabaya Bambang DH saat melepas atlet Surabaya yang bertarung di PON Kaltim lalu. Angka 50 merujuk pada jumlah medali emas yang dibidik di Porprov mendatang. Jumlah ini, merupakan kelipatan dua dari jumlah medali yang dikoleksi Surabaya di Porprov 2007 lalu. Saat itu, kontingen Surabaya keluar sebagai juara umum dengan 27 emas.
Di atas kertas, sepertinya sulit bagi Surabaya untuk tak merebut kembali juara umum. Semua perencanaan sudah disusun secara matang. Hanya saja, apakah ini sudah cukup untuk mengantar Surabaya juara kembali?
Ini yang masih perlu dibuktikan di lapangan kelak. Yang pasti, kontingen Surabaya perlu belajar dari kegagalan DKI Jakarta di PON Kaltim lalu. Dominasi DKI Jakarta di tiap PON pada akhirnya justru membuat antipati dari kontingen lain. Akibatnya, penjegalan terjadi di sana-sini. Gerakan Asal Bukan Jakarta (ABJ) menggelinding bak bola salju. Pada akhirnya, Jatim yang diuntungkan dari penempatan DKI Jakarta sebagai musuh bersama.
Yang perlu diwaspadai, bagaimana Surabaya bisa menghindari dari cap sebagai musuh bersama. Dominasi yang berlebihan, bagaimanapun, sedikit banyak akan memicu rasa antipati. Apalagi, Porprov kali ini digelar di Malang, daerah yang selama ini miliki tingkat persaingan tinggi dengan Surabaya.
Faktor non teknis ini, perlu diperhatikan. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah bagaimana seluruh elemen olahraga di Surabaya bisa miliki kesepahaman untuk menebar simpati. Baik lewat para pengurus, atlet, pelatih maupun wasit. Langkah ini sudah bisa dimulai dari sekarang. Terutama di even yang memungkinkan pertemuan dengan daerah lain. Gumpalan simpati ini, diharapkan bisa dipetik saat pelaksanaan Porprov nanti. ***
Selasa, 25 November 2008
Haji Bonek
Ram Surahman
rambenjeng@gmail.com
Haji bonek. Komentar spontan seorang teman saat membaca berita calon jamaah haji (CJH) asal Surabaya ngamuk kala menunggu jemputan di Mekkah. Seperti yang dilaporkan Radar Surabaya (Sabtu, 22/11), jamaah yang kalap sempat lakukan perusakan komputer dan melukai petugas haji di sana. Masya Allah.
Peristiwa tersebut jelas sangat memprihatinkan. Masak, para tamu Allah, umbar emosional seperti itu. Sebagai seorang muslim yang diberi kesempatan memenuhi panggilan Tuhan-Nya, tentu perilaku seperti ini sama sekali tak bisa ditolelir. Secara teologis, perilaku seperti itu sama sekali tak dibenarkan. Bukankah Allah bersama orang-orang yang sabar? (QS. 2:153)
Kendati begitu, sebutan haji bonek saya kira bukan istilah yang tepat. Bukan saja, bonek –sebutan yang merujuk para perilaku suporter Surabaya- saat ini sudah mulai berubah. Mereka mulai coba menampilkan wajah yang lebih santun dan teduh.
Selain itu, menghantam mereka dengan ayat kesabaran juga kurang bijak.
Seruan menjaga kesabaran tak harus dimaknai lemah seperti itu. Tuhan, tentu tak akan menurunkan ayat ini untuk menjadikan seorang muslim pasif. Terima apa adanya atas segala eksploitasi yang diterima. Justru, ayat tersebut mengandung semangat progresif. Sabar adalah sebuah titik akhir setelah seseorang melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh. Berusaha semaksimal mungkin demi dapatkan hasil yang maksimal pula. Baru setelah itu berserah diri dengan menjunjung kesabaran.
Dalam tataran ini, sejak di tanah air, para CJH sudah melalui sederet rintangan yang menguji kesabaran. Keputusan untuk datang ke tanah suci jelas tak bisa sekedar Bondho Nekat (Bonek) saja. Dituntut kecukupan finansial untuk bisa membayar Ongkos Naik Haji (ONH) yang cukup mahal. Cukup? Belum. Mereka masih harus antre mendapatkan kepastian berangkat. Belum lagi urusan lain yang tak kalah pelik menyangkut keluarga dan lingkungan sekitar. Sudah tentu, harapan dari sederet pengorbanan tersebut adalah pelayanan yang memuaskan. Sebuah harga yang mestinya setimpal. Sayang, kenyataan di lapangan berbicara lain. Pelayanaan yang didapatkan masih belum optimal.
Ayat di atas harusnya dimaknai secara komprehensif. Pemerintah, selaku regulator sekaligus operator haji, tak bisa menjadikan ayat ini sebagai tameng untuk lakukan eksploitasi pada para CJH. Apalagi hanya dipakai untuk membela diri dari sikap tak profesional dalam pengelolaan manajemen haji. Sederet pengorbanan yang ditunjukkan para CJH, harusnya diimbangi dengan pelayanan yang maksimal dan profesional pula. Baru setelah itu berpasrah diri dengan penuh kesabaran. ***
rambenjeng@gmail.com
Haji bonek. Komentar spontan seorang teman saat membaca berita calon jamaah haji (CJH) asal Surabaya ngamuk kala menunggu jemputan di Mekkah. Seperti yang dilaporkan Radar Surabaya (Sabtu, 22/11), jamaah yang kalap sempat lakukan perusakan komputer dan melukai petugas haji di sana. Masya Allah.
Peristiwa tersebut jelas sangat memprihatinkan. Masak, para tamu Allah, umbar emosional seperti itu. Sebagai seorang muslim yang diberi kesempatan memenuhi panggilan Tuhan-Nya, tentu perilaku seperti ini sama sekali tak bisa ditolelir. Secara teologis, perilaku seperti itu sama sekali tak dibenarkan. Bukankah Allah bersama orang-orang yang sabar? (QS. 2:153)
Kendati begitu, sebutan haji bonek saya kira bukan istilah yang tepat. Bukan saja, bonek –sebutan yang merujuk para perilaku suporter Surabaya- saat ini sudah mulai berubah. Mereka mulai coba menampilkan wajah yang lebih santun dan teduh.
Selain itu, menghantam mereka dengan ayat kesabaran juga kurang bijak.
Seruan menjaga kesabaran tak harus dimaknai lemah seperti itu. Tuhan, tentu tak akan menurunkan ayat ini untuk menjadikan seorang muslim pasif. Terima apa adanya atas segala eksploitasi yang diterima. Justru, ayat tersebut mengandung semangat progresif. Sabar adalah sebuah titik akhir setelah seseorang melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh. Berusaha semaksimal mungkin demi dapatkan hasil yang maksimal pula. Baru setelah itu berserah diri dengan menjunjung kesabaran.
Dalam tataran ini, sejak di tanah air, para CJH sudah melalui sederet rintangan yang menguji kesabaran. Keputusan untuk datang ke tanah suci jelas tak bisa sekedar Bondho Nekat (Bonek) saja. Dituntut kecukupan finansial untuk bisa membayar Ongkos Naik Haji (ONH) yang cukup mahal. Cukup? Belum. Mereka masih harus antre mendapatkan kepastian berangkat. Belum lagi urusan lain yang tak kalah pelik menyangkut keluarga dan lingkungan sekitar. Sudah tentu, harapan dari sederet pengorbanan tersebut adalah pelayanan yang memuaskan. Sebuah harga yang mestinya setimpal. Sayang, kenyataan di lapangan berbicara lain. Pelayanaan yang didapatkan masih belum optimal.
Ayat di atas harusnya dimaknai secara komprehensif. Pemerintah, selaku regulator sekaligus operator haji, tak bisa menjadikan ayat ini sebagai tameng untuk lakukan eksploitasi pada para CJH. Apalagi hanya dipakai untuk membela diri dari sikap tak profesional dalam pengelolaan manajemen haji. Sederet pengorbanan yang ditunjukkan para CJH, harusnya diimbangi dengan pelayanan yang maksimal dan profesional pula. Baru setelah itu berpasrah diri dengan penuh kesabaran. ***
Langganan:
Postingan (Atom)